Berkah Pandemi
Saat itu, awal Maret 2020, Pemerintah memutuskan pembelajaran jarak jauh bagi dunia pendidikan Indonesia karena pandemi C 19 melanda. Kami sebagai guru menyambut dengan baik karena tentu saja demi kemaslahan semua pihak. Hari-hari selanjutnya adalah kami menjadi sangat familiar dengan media zoom, gmeet, e learning, google classroom, dll.
Media-media tersebut sangat membantu kami dan anak didik kami agar tetap belajar walaupun tidak semaksimal jika belajar secara tatap muka.
Dampak pandemi tentu hampir semua orang merasakan baik kesehatan yg turun karena menderita covid atau terdampak pada kondisi finansial. Banyak orang yang terimbas pemutusan kerja karena perusahaan, toko, atau tempat mereka bekerja mengalami kerugian. Mobilitas pun terbatas sehingga beberapa orang merasa jenuh di rumah saja. Demi kesehatan yg lebih baik semua harus dipaksa menerima keadaan hingga semua benar-benar pulih.
Alhamdulillah, saat tulisan ini dibuat, masa berat itu terlah terlewati secara perlahan. Tahun 2023 pemerintah telah mencbut PPKM. Negara kita telah normal dan pulih kembali.
Di antara dampak negatif akibat pandemi dan harus di rumah saja selama covid 19, saya merasakan beberapa hal baik yang saya alami dan merasa itu adalah momen yang tak pernah saya lupakan seumur hidup tentunya. Di balik musibah pandemi ada berkah di dalamnya. Sebagaimana pernah diajarkan dalam agama saya, setiap kesulitan sesungguhnya ada kemudahan. Dan setiap musibah selalu ada jalan keluar. Ada berkah pandemi yang saya rasakan.
1. Banyak membaca
Selama di rumah, kegiatan saya selesai mengajar secara online adalah membaca buku kesukaan saya yang selama ini terbengkalai dan sudah lama tidak membaca. Dengan membaca pikiran saya lebih terbuka dan melanjutkan bacaan saya yg selama ini terlewatkan. Banyak koleksi buku saya berdebu dan usang. Kebetulan saya saat itu sedang menyukai teman2 parenting, mendidik anak, psikologi, dan keagamaan. Walau belum semua tuntas dibaca setidaknya waktu yg ada tidak terlewat begitu saja.
2. Belajar bahasa Arab
Saat pandemi, saya sedang bersemangat mendalami agama terutama tentang ilmu fikih dan Al Qur'an . Ingin rasanya saya selain bisa membaca juga memahami artinya. Saya berpikir bahwa umur saya yg sudah tua ini (kepala 4 upss) belum khatam membaca terjemahan apalagi maknanya. Hal ini bisa kita dapatkan salah satunya belajar bahasa arab dan tentunya membaca tafsirnya. Karena pandemi tidak memungkinkan saya belajar keluar rumah, saya mencoba mencari info secara online. Alhamdulillah, saya akhirnya mengikuti kelas nahwu shorof dan dilanjutkan belajar sedikit percakapan. Mungkin untuk bisa menguasai secara penuh belum sempurna, tetapi ini setidaknya menjadi pemula untuk belajar secara serius. Dua kelas yang saya ikuti saya dapatkan dari sosmed dan satu lagi dari kakak kelas saya yg pernah belajar di Arab.
3. Dekat dengan keluarga
Selama pandemi, saya dan suami bekerja secara daring atau wfh karena kamu sama-sama guru. Anak kami yang sekolah pun akhirnya belajar daring. 2 anak kami yg lain belum sekolah. Saya merasakan betul mengajar dengan menggunakan zoom atau meet saling sahut2 an dengan suami dan anak kami. Lucu juga ya menginat momen itu. Kadang saat saya membuka webcam ketika mengajar tetiba anak kami yg balita merengek. Akhirnya saya minta maaf ke anak didik saya yg serius di depan laptop Maaf saya ya anak-anak. Kami harus cari akal agar kewajiban kami sebagai guru yg memberikan pelajaran walau secara daring tidak terlalu fatal. Kami berbagi ruang agar tidak terlalu terdengar saling sahut2an. Pasca mengajar kami biasa berkumpul dan berbagi peran di rumah. Kalau anak kami setelah belajar dia langsung kabur bermain dekat rumah karena jenuh berlama-lama di depan hape atau laptop.
4. Menjadi lebih empati kepada orang lain
Ini lah pembelajaran hidup yang saya akui terbentuk salah satunya nya karena pandemi. Alhamdulillah, sebagai guru honorer di daerah saya, gaji saya tidak ada potongan walaupun cairnya juga tidak tentu. Saya harus menghemat sedemikian rupa agar cukup kebutuhan kami. Gaji suami pun cukup untuk kami. Saya tidak memiliki pembantu. Semua pekerjaan rumah dibagi2. Lelah pastinya, tapi suami juga maubantu jadi lelahnya bisa dibagi-bagi. Bahkan kami bisa menabung. Oleh karena itu, jika ada teman yang sakit terdampak covid, kelebihan rezeki yang saya dapatkan harus membantu sesama. Di sini bukan maksud saya ria atau pamer, tetapi saya merasakan empati jauh lebih terasah dalam diri saya.
5. Melanjutkan poin ke 2 selain belajar bahasa Arab, saya juga manfaatkan waktu untuk menghafal Al Qur'an terutama juz 30. Saya mengikuti kelas online menghafal Alquran dibimbing salah satu ustazah. Alhamdulillah saat itu saya lebih bersemangatt.
Demikian lah beberapa berkah pandemi yang saya dapatkan. Semoga bermanfaat.
Lalu bagaimana saat ini pasca pandemi telah pergi dan semua kembali normal, apakah saya msh rajin membaca, mengikuti kelas online dan lain-lain?
Ditunggu tulisan berikutnya. Masih dalam proses.
Comments
Post a Comment